Kamis, 12 Juni 2014

Pedagogi



Pengalaman pada masa pedagogi
Pengertian Pedagogi itu merupakan cara pembelajaran yang diberikan untuk anak-anak dimana orang tua yang menjadi sumber solusinya. Dimana pada saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama apalagi dibangku Sekolah Dasar, pada saat itu metode pengajaran yang digunakan guru saya tergantung kepada guru saya sendiri. Guru yang menentukan semua yang terjadi didalam kelas, kami hanya dapat mengikuti apa yang diintruksikan oleh guru kepada kami. Guru saya pada masa itu menganggap bahwa dirinya sangat bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya kepada kami murid-muridnya. Mungkin hal ini dikarenakan masih sangat minimnya cara kami berpikir maupun menyelesaikan suatu masalah, dimana biasanyakan anak SD masih membutuhkan orang tua sebagai sarana mereka untuk bertanya dan meminta pendapat yang mana yang baik buat dirinya dan yang mana yang gak baik buat dirinya. Karena diusia kami sendiri belum tau membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Pengalaman masa saya Pedagogi dahulupun sangat sedikit karena saat itu guru yang berperan aktif didalam kelas, bahkan pada saat didalam kelaspun guru yang yang mengatur waktu belajarnya. Guru sebagai sarana utama kami dalam menghasilkan ide-ide cemerlang dan memberikan contoh-contoh kepada kami, guru yang memberikan ceramah-ceramah kepada kami, sedangkan kami hanya sebagai peserta pasif yang hanya dapat meniru peran yang dimainkan oleh guru kami. Kami belum dapat mengekplorasikan diri kami. Gaya belajar yang kami gunakan pada saat itu dependen, sangat berhubungan dan tergantung oleh guru kami. Jika guru kami mengatakan A, maka yang kami lakukanpun A tidak akan pernah menjadi B. Orientasi belajar saya pada masa Pedagogipun sudah diatur oleh guru secara sistematis dan logis, kami belajar melalui topik-topik dari buku bahan ajaran yang diberikan kepada guru kami. Motivasi yang yang saya punya pada masa saya dipedagogi itu masih berasal dari eksternal, saya pada masa itu harus dan diwajibkan untuk mengikuti pendidikan. Jika tidak mau mengikuti dirayu-rayu dahulu sampai akhirnya mau untuk mengikuti suatu pendidikan. Pekerjaan rumahpun harus diingatkan setiap saat, jika tidak diingkatkan maka pekerjaan rumah tidak selesai,bahkan terkadang harus ada reward tertentu agar saya mau untuk pergi sekolah. Jika tidak ada reward saya tidak mau pergi sekolah. Pada masa ini saya belum menemukan konsep diri saya, siapa diri saya dan jadi diri saya. Karena pada masa itu yang berperan penting orang tua dan guru saya. Tidak banyak kegiatan yang kami lakukan pada masa itu, hanya belajar Indoor tidak pernah sekalipun belajar Outdoor kecuali pada mata pelajaran Olahraga, namun terkadang pun pada saat mata pelajaran Olahraga kami didalam ruangan saya mendengarkan guru kami berceramah yang tiada hentinya.
Namun guru-guru saya mada masa itu hampir dikategorikan mempunyai 10 karakteristik guru yang baik. Guru saya bangga ketika kami mampu berprestasi. Saat itu ada olimpiade yang diikuti oleh setiap sekolah yang ada di Kecamatan saya, nah kebetulan kami salah satu dari pemenang olimpiade tersebut, saat mendengarkan nama sekolah kami disebutkan oleh juri guru saya langsung berdiri dan merasa sangat senang sekali lalu segala pujianpun dilontarkan untuk kami. Guru saya mempunyai gairah untuk hidup dan kesabaran yang tinggi. Bagaimana tidak, buktinya saja dengan semangatnya mereka setiap hari berusaha untuk terlihat rapi didepan kami agar kami tertarik kepada mereka, dan dengan sabarnya mereka mengajar kami semua hal-hal yang brmanfaat bagi kami. Meskipun tidak semua guru saya mempunyai kesabaran yang sama, tetapi setidaknya mereka sudah berusaha untuk sabar. Mereka juga punya keyakinan terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka mampu menjadikan kami orang yang lebih baik dari mereka. Merekapun menyayangi kami layaknyanseperti anak mereka sendiri.



Rabu, 11 Juni 2014

Tes Standar


Tes standard disiapkan oleh spesialis untuk menilai kinerja dalam kondisis yang seragam. Tes standard bisa membandingkan kinerja murid satu dengan kenerja murid lainnya pada usia atau level yang sama, dan kasus perbandingannya berbasis nasional.
Tujuan tes standard :
1.      Memberikan informasi tentang kemajuan murid
2.      Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid
3.      Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus
4.      Memeberi informasi untuk merencanakan dan meningkatkan pengajaran atau instruksi
5.      Membantu administrator dalam mengevaluasi program
6.    Memberikan akuntabilitas
Kriteria untuk Mengevaluasi Tes Standard
1.      Norma : untuk memehami kinerja murid individual dalam suatu tes, kinerjanya itu perlu dibandingkan dengan kinerja kelompok norma (norm group), yakni kelompok dari individu yang sama yang sebelumnya telah diberi ujian oleh penguji.
2.      Validitas : sejauh mana sebuah tes akan mengukur apa-apa yang hendak diukur dan apakah inferensi tentang nilai tes itu akurat atau tidak. Ada tiga tipe validitas, yaitu ;
·         Validitas isi : kemampuan tes untuk mencangkup sampel (to sample) isi yang hendak diukur
·         Validitas kriteria : kemampuan tes untuk memprediksi kinerja murid saat diukur dengan penilaian atau kriteria lain
·         Validitas konstruk : sejauh mana ada bukti bahwa sebuah tes mengukur konstruk tertentu. Sebuah konstruk adalah ciri atau karakteristik yang tidak bisa dilihat dari seseorang, seperti intelegensi (kecerdasan), gaya belajar, personalitas, atau kecemasan.
3.      Reliabilitas : sejauh mana sebuah prosedur tes bisa menghasilkan nilai yang konsisten dan dapat direproduksi. Reliabilitas dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain :
·         Test-retest reliability : sejauh mana sebuah tes menghasikan kinerja yang sama ketika seorang siswa diberi tes yang sama dalam dua kesempatan yang berbeda
·         Alternate-forms reliability : reliabilitas ditunjukkan dengan memberikan bentuk yang berbeda dari tes yang sama pada dua kesempatan yang berbeda untuk dua kelompok murid yang sama dan mengamati seberapa konsistenkah skornya.
·         Split=half reliability : reliabilitas yang dinilai dengan membagi item tes menjadi dua bagian, seperti item bernomot genap dan ganjil. Nilai pada dua set item itu dibandingkan guna menentukan seberapa konsistenkah kinerjanya murid di kedua set itu.
4.      Keadilan : tes yang adil (fair) adalah tes yang tidak bias (unbiased) dan tidak diskriminatif. Tes juga tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor genter, etnis, atau faktor subjektif seperti bias penilai.
Tes Kecakapan dan Prestasi
Tes kecakapan akan memprediksi kemampuan belajar murid, atau apa yang dapat dicapai oleh murid dengan pendidikan dan pelatihan lebih lanjut. Tes prestasi mengukur apa yang telah dipelajari murid, atau keahlian yang telah dikuasai oleh murid.
Tes kecakapan mencangkup tes kemampuan umum seperti tes kecerdasan (IQ) atau tes kecakapan spesifik yang biasa dipaki untuk memprediksi keberhasilan dalam subjek akademik atau bidang pekerjaan. Tes SAT biasanya dipakai sebagai tes kecakapan walaupun ia dapat dipaki sebagai tes prestasi.
 Jenis-jenis Tes Prestasi Standard
ž  Survey batteries (tes mata pelajaran induvidual yang didesain untuk level murid tertentu).
ž  Tes untuk subjek spesifik (menilai keahlian secara lebih rinci dan ekstensif ketimbang survey batteries).
ž  Tes diagnostik (untuk mengetahui kelemahan murid, sering kali diberikan setelah instruksi di laksanakan)
Ujian Negara Beresiko Tinggi (High-Stakes)
Pada tahun 1990-an, ujian negara menjadi lebih terkait dengan sasaran pendidikan dan pengajaran yang ditentukan negara. Kebanyakan ujian negara terutama berisi soal pilihan berganda dan hampir semuanya menggunakan penilaian yang mengacu pada kriteria tertentu. Para pembuat kebijakan sering mengemukakan keuntungan dari ujian yang diwajibkan negara berikut ini : meningkatkan kinerja murid, lebih banyak pelajaran yang diujikan, ekspektasi buruk, dan meningkatkan rasa percaya diri disekolah ketika nilai tesnya meningkat. Ujian negara ini dipakai dalam keputusan untuk remediasi, kenaikan dan kelulusan. Ujian negara dikritik karena mengumpulkan kurikulum, mempromosikan, mempromosikan memorisasi tanpa menganalisis, mendorong guru untuk mengajar demi tes, dan mendiskriminasi murid dari latar belakang miskin dan etnis minoritas. Dibutuhkan evaluasi lebih lanjut terhadap tes beresiko tinggi dan dibutuhkan perubahan dalam sistem ujian negara.
Tes Distrik dan Nasional
Ujian distrik dan ujian nasional juga sudah dipakai. NAEP adalah ujian nasional pemerintah federal untuk mengevaluasi pengetahuan, keahlian, pemahaman, dan sikap generasi muda Amerika. Penilaian nasional atas murid adalah bagian dari usaha Amerika untuk mengejar, dan kemudian menentukan, standar kelas dunia. Pada beberapa perbandingan murid dengan negara lain, posisi murid Amerika tidak lebih baik. Banyak isu dalam konsep standar kelas dunia ini.
Peran  Guru dalam  Mempersiapkan Murid Mengikuti Tes Standard
Memastikan agar murid punya keahlian mengerjakan soal yang baik. Juga, mengkomunikasikan sikap positif terhadap tes kepada murid. Membuat program untuk meningkatkan nilai murid ternyata tidak banyak menolong.
Menjalankan tes standar
Kebanyakan tes standar mengungkapkan secara rinci cara tes tersebut dilakukan. Diantaranya adalah cara mengatur ruang tes, apa yang harus dilakukan oleh murid saat mengerjakan tes, bagaimana mendistribusikan lembar soal dan jawaban, dan bagaimana mengatur waktu tes. Dalam menjalankan tes penting untuk mengikuti naskah kata demi kata.
Memahami dan menginterprestasikan hasil tes
Statistika deskriptif adalah prosedur matematika yang dipakai untuk mendeskripsikan dan meringkas data dalam cara yang bermakna. Distribusi berfrekuensi adalah daftar nilai dari yang tertinggi ke yang terendah bersama dengan berapa kali nilai muncul.

Jumat, 30 Mei 2014

Mengelola Kelas

Mendesain Lingkungan Fisik Kelas Prinsip dasar mendesain lingkungan fisik kelas yang efektif adalah :
1. Menguragi kepadatan diarea yang menjadi tempat lalu-lalang.
2. Memastikan anda bisa melihat semua murid dengan mudah
3. Materi yang sering dipakai dan perlengkapan murid harus mudah diakses.
4. Memastikan agar semua murid dapat melihat presentasi kelas
Gaya penataan kelas :
- Gaya auditorium ; gaya susunan kelas dimana semua murid duduk
menghadap guru
- Gaya taap muka ; gaya susunan kelas dimana murid saling menghadap
- Gaya off-set ; gaya susunan kelas dimana sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak)duduk dibangku, tapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain
 - Gaya seminar ; gaya susunan kelas dimana sejumlah besar murid (sepuluh atau lebih) dudk di susunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau berbentuk U
- Gaya klaster ; gaya susunan kelas dimana sejumlah murid (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil Menciptakan lingkungan kelas yang positif Strategi umum mencangkup penggunaan gaya otoritatif dan manajemen aktivitas kelas secara efektif. Gunakan manajemen kelas otoritatif, bikan otoriter atau prmisif. Gaya otoritatif adalah melakukan percakapan dengan murid, memperhatikan murid dan membatasi prilaku murid jika dibutuhkan. Pengajaran yang otoritatif brhubungan dengan perilaku murid yang kompeten. Karya Kounin mengungkapkan karakteristik lain yang berhubungan dengan manajemen kelas yang efektif ; withness, mengatasi situasi yang tumpang tindih, menjaga kelancaran dan kontiunitas pelajaran, dan melibatkan murid dalam berbagai aktivitas yang menantang. Aturan kelas harus : (1). Masuk akal dan perlu, (2). Jelas dan dapat dipahami, (3). Konsisten dengan tujuan intruksional dan pembelajaran;dan (4). Kompatiebel dengan aturan kelas. Mengajak murid untuk bekerja sama Agar murid mau bekerja sama maka diperlikan : 1. Pengembangan hubungan positif dengan murid 2. Mengajak murid berbagi dan mengemban tanggung jawab (melibatkan murid dalam perencanaan implementasi inisiatif sekolah dan kelas, mendorong murid untuk menilai perilaku merekasendiri, jangan menerima alasan-alasan, dan bersabar sampai sterategi pemberian tanggung jawab ini bisa bekerja. 3. Memberi imbalan pada perilaku yang tepat (memilih penguat yang efektif, menggunakan prompts dan shaping secara efektif , dan menggunakan hadiah yang mengandung informasi penguasaan keahlian) Bebrapa komunikasi yang baik bagi guru maupun murid Anda dan murid anda akan mendapat banyak manfaat jika anda punya keahlian berbicara yang efektif dan anda membantu murid anda dalam mengembangkan keahlian berbicara mereka. Bebicara efektif didepan kelas dan murid harus menggunakan pesan yang jelas, menggunakan pesan “saya”, bersikap asertif, dan menghindari rintangan komunikasi verbal. Baik guru maupun murid harus mengetahui cara bebicara dan berpidato secara efektif. Keterampilan mendengar Mendengar aktif adalah ketika seseorang pmemberi perhatian penuh pada pembicara, fokus pada isi intelektual dan emosional dari pesan.
 Beberapa sterategi mendengarkan aktif antara lain ;
1. Memberi perhatian pada orang yang berbicara
2. Parafrasa
3. Mensintesiskan tema dan pola
4. Memberi tanggapan secara kompeten.
Sejumlah pakar komunikasi percaya bahwa mayoritas komunikasi adalah komunikasi non verbal. Sulit untuk menutupi komunikasi nonverbal, sehinnga lebih baik kita menyadari bahwa komunikasi nonverbal biasanya mereflikasikan perasaan orang. Komunikasi nonverbal menggunakan ekpresi muka, mata, sentuhan, ruang dan diam. Menghadapi perilaku bermasalah Intervensi dapat di bagi menjadi intervensi minor atau moderat. Intervensi minor menggunakan isyarat nonverbal, mempertahankan laju aktivitas, mendekati murid, mengarahkan perilaku, memberi intruksi yang dibutuhkan, menyuruh murid menghentikan suatu perilaku, dan memberi pilihan kepada murid. Intervensi moderat antara lain dengan mencabut privilese atau melarang murid melakukan aktivitas yang disenaginya, membuat perjanjian behavioral, mengasosiasikan atau mengeluarkan murid dari kelas, dan memberi hukuman. Strategi manajemen yang baik adalah menggunakan sumber daya pendukung. Sumber daya ini antara lain teman sebaya sebagai mediator, orang tua, kepala sekolah atau konselor, dan mencari mentor untuk murid. Kekerasan disekolah kini semakin memperhatinkan. Maka kita harus bersiap menghadapi tindakan agresif murid sehingga nanti kita bisa menghadapinya dengan tenang. Hindarilah berbantahan atau konfrontasi emosional. Berikut beberapa pedoman untuk mengatasi perkelahian, bulliying, dan pembangkangan atau pemusuhan terhadap guru. Program efektif untuk mengelola perilaku di kelas antara lain program pengayaan kompentensi sosial, manajemen tiga C yang terdiri dari : Cooperatif Community, Contructif Conflict resolution, civic values dan mendukung pengelolaan kelas berorientasi murid (Classroom Organization and Management Program [COMP].

Tekanan Teman Sebaya

“Ayo, kenapa sih? Senang sedikitlah.”
 “Semua pergi kesana. Ayo!”
 “Hei, kita gak bakal ketahuan. Nggak bakal ada yang tau.”
“Apa? Kamu pengecut, ya? Cobain dulu. Kamu pasti suka.”
Apa kalimat-kalimat diatas terdengar akrab? Pasti. Kamu pasti pernah dengar ajakan itu dan ajakan serupa dari teman sebaya kamu-orang yang usianya hampir sama dengan kamu yaitu teman, teman sekelas, atau kenalan kamu. Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan salah satu penerapan tekanan sebaya. Tujuannya adalah membuat kamu merasa disingkirkan dan diejek kalau kamu gak mengikuti kelompok. Ini adalah suatu bentuk pemaksaan emosi. Dengan kata lain, kamu mungkin merasa bahwa kamu harus melakukan sesuatu atau menghadapi resiko kehilangan semua kesenangan yang bisa dibrikan kelompok sebaya. Apakah kamu butuh kelomok teman sebaya? Tentu. Kita semua butuh penerimaan dan pengakuan. Kita butuh dukungan teman dan kenalan. Ada rasa nyaman dan memiliki. Itu adalah manfaat perasaan dibutuhkan dan disukai. Tapi kelompok sebaya juga bisa negatif. Bagaimana bisa tau kalau tekanan teman sebaya itu negatif? Kadang-kadang ini sulit banget. Sebagian sebabnya adalah kenyataan bahwa remaja berada di tahun-tahun “antara”. Kamu begitu dekat sama masa dewasa, tapi belum berada dimasa itu. Dan kamu bukan lagi anak-anak. Kadang-kadang kamu menginginkan jawaban dan bantuan dari orangrua, tapi kamu juga ingin mandiri. Nggak mudah mengetahui dengan pasti bagaimana menggabung-gabungkan semua ini sehingga membentuk suatu hasil yang baik. Tantangan adalah bagaimana mencari cara untuk dapat diterima oleh teman sebaya kamu dan juga dapat memenuhi harapan orang tua. Ini artinya pakai semua pengalaman dan pengetahuan kamu, meramunya dan akhirnya membuat keputusan sendiri. Ada dua tekanan teman sebaya-postif dan negatif. Tekanan sebaya nggak semuanya buruk. Misalnya, punya teman yang mendorong kamu berusaha lebih keras disekolah atau olahrga bisa bikin kamu lebih bersemangat kalau kamu belum melakukan yang terbaik. Teman bisa mencegah kamu supaya gak melalaikan kewajiban kamu dan menolong kamu waktu kamu lagi bete. Mereka bisa memotivasi serta mengarahkan kamu ke arah yang benar. Banyak anak berhasil meninggalkan kebiasaan merusak diri sendiri, seperti minum, pakai narkoba, dan bahkan bunuh diri karena adanya kelompok sebaya yang penuh perhatian. Itu adalah tekanan sebaya positif, dan mestinya ini gak diabaikam atau dianggap remeh. Sayangnya, tekanan sebaya sering muncul dari sudut lain. Hal-hal yang buruk bisa kelihatan menarik buat kamu, dan kelompok sebaya bisa bikin hal-hal itukelihatan bagus. Ada kekhawatiran tambahan bahwa anak-anak gak bakal menyukai kamu atau bakal menyangka kamu orang luar atau orang aneh. Sayang, memang. Tapi orangtua kadang-kadang tidak dapat membantu. Ada orang tua yang terlalu menyederhanakan masalah yang kamu hadapi. Peristiwa besar dalam hidup kamu mungkin kelihatan remeh atau konyol bagi mereka. Mungkin mereka sudah luapa alangkah besarnya tekanan yang harus dihadapi didalam kelompok sebaya. Mereka lupa alangkah hebatnya perasaan-perasaan itu waktu kamu mengalaminya pertama kali. Sekali waktu, orang dewasa tentu memberi kamu jawaban “frontal dan langsung” untuk menyelesaikan masalah kamu. Pernahkah kamu mendengar kata-kata seperti ini?
“Tenang aja!”
“Dewasalah!”
“Lupakan saja.”
“Jangan seperti anak kecil.”
“Masalh kecil, kamu bakal cepat melupakannya.”
 “Kamu mau tahu yang namanya masalah? Dulu saya punya banyak masalah. Waktu saya masih kecil.” Dan tentu saja kamu pernah mendengar “jawab saja nggak” berkali-kali. Ini salah satu ungkapan yang serimh kita temui di generasi kita. Dan meskipun ini adalah ide yang sangat baik, nggak mudah untuk melepaskan diri begitu saja. Banyak masalah remaja yang terlalu kompleks untuk ditangani dengan respons sederhana saja. Misalnya, berapa banyak teman kamu yamg bisa menerims jawaban “nggak” kamu pada waktu mereka mengajak kamu pergi bersama? Berapa banyak yang mengatakan “Oh, itu pilihan bagus. Kamu telah berpikir dengan bijak. Kamu harus bangga dengan diri kamu sendiri.” Nggak banyak kan? Kalau kamu seperti orang kebanyakan, kamu bakal terus dibujuk dan terus diganggu supaya mengikuti kelompok kebanyakan. Kalau tekanan berasal dari teman atau orang yang ingin kamu ajak berteman, sulit untuk menolaknya. Kelompok sebaya itu punya pengaruh kuat dan bisa menekan kamu dengan kuat sehingga kamu ikut dengan kelompok itu. Dan lagi, siapa yang ingin dipermainkan dan diasingkan? Tapi ada waktunya kamu menjawab “nggak”. Menjawab “nggak perlu keberanian dan tekad yang besar. “Sering ada perbedaan antara alasan bagus dan alasan yang kedengarannya bagus.” Hal pertama yang harus kamu lakukan kalau ada teman-teman kamu yang membujuk kamu untuk melakukan sesuatu adalah berpikir. Sering sekali, anak muda mendapat masalah hanya karena ikut-ikut kelompok. Generasi kamu sama saja dengan generasi-generasi sebelumnya. Ada sesuatu tentang masa muda yang membuat mereka merasa nggak terkalahkan, bahwa nggak ada yang bisa menyakiti mereka. Dan banyak remaja, kata terburuk dari orangtua adalah “jangan”.
Berikut ada saran-saran yang mungkin bisa membantu :
1. Pikirkan tindakan apa yang diinginkan kelompok dari kamu.
2. Pikirkan dampak apa yang akan terjadi
3. Putuskan sebelumnya apa yang akan kamu lakukan dan kamu katakan.
4. Pikirkan pilihan-pilihanmu. Pada dasarnya, ada empat hal yang bisa kamu lakukan: • Katakan “ya” • Katakan “tidak” • Berkompromi • Menunda
5. Berpegang teguhlah pada nilai-nilai dan moralmu
6. Bicaralah pada teman-teman dekat kamu
7. Percaya pada hati nurani kamu
8. Bersikap tegaslah
9. Bicaralah pada orang tua kamu
10. Bicaralah pada orang dewasa yang kamu percaya



 “Ukuran sifat sejati seseorang adalah apa yang dia lakukan kalau dia tahu dia nggak bakal tertangkap”

 “Kekuatan kita terlihat pada hal-hal yang kita pertahankan. Kelemahan kita terlihat pada hal-hal yang kita langgar”

 “Lebih baik memikirkan apa yang ingin kamu lakukan daripada menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan apa yang telah kamu lakukan”

Pelajar Yang Tidak Biasa

Pelajar yang tidak biasa adalah anak-anak yang memilki ganguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat. Kira-kira 10 persen anakAS yang menderita ganguan telah mendapatkan pendidikan khusus. Lebih dari 50 persen yang diklasifikasikan sebagai anak penderita ganguan atau ketidakmampuan belajar (dalam klasifikasi federal, ini menyangkut attention deficit hyper activity disorder (ADHDI). Persentasi substansial dari anak penderita ketidakmampuan mencangkup reterdasi mental, ganguan bicara dan bahasa, atau ganguan emosional serius. Istilah anak dengan ketidakmampuan kini lebih banyak dipakai ketimbang istilah “anak cacat” dan karenanya anak penderita ketidakmampuan ini tak lagi disebut “anak cacat”. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan kepada seseorang yang menderita ketidakmampuan. Ganguan Indra Ganguan sensoris antara lain adalah gangguan visual dan pendengaran. Ganguan visual mencangkup penglihatan lemah (low vision) dan buta. Anak-anak yang menderita low vision punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 (pada skala Snellen dimana angka normalnya adalah 20/20) apabila dibantu lensa korektif. Aanak low vision bisa membaca buku dengan huruf besar-besar atau dengan bantuan kaca pembesar. Aank yang “buta secara edukasional” (educatially blind) tidak bisa mengguanakan penglihatan mereka untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan untuk belajar. Banyak anak buta punya kecerdasan normal dan berprestasi secara kademik apabila diberi dukungan dan bantuan belajar yang tepat. Salah satu tugas penting untuk mengajar anak yang menderita ganguan atau kerusakan penglihatan ini adalah menentuksn modalitas (seperti sentuhan atau pendengaran) yang dengannya murid dapat belajar dengan baik. Strategi pendidikan untuk murid yang menderita gangguan pendengaran dibagi menjadi 2 kelompok : oral dan manual. Kedua pendengaran i ni makin banyak dipakai untuk murid dalam pendekatan komunikasi total. Ganguan Fisik Gangguan fisik antara alain : Ganguan Ortopedik, ganguan ini biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Contohnya seperti ganguan karena cedera diotak (cerebral palsy). Cerebral palsy adalah ganguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas. Ganguan kejang-kejang (seizure). Jenis yang paling kerab dijumpai adalah epilepsi, ganguan sarf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang. Retardasi mental adalah kondisi yang tampak sebelum umur 18 tahun, yakni kecerdasan rendah (biasanya IQ dibawah 70) dan kesulitan beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Retardasi mental diklasifikasikan dalam term empat kategori terutama berdasarkan pada skor IQ: ringan, moderat, berat dan parah.Sistem klasifikasi yang baru didasarkan pada level dukungan yang dibutuhkan. Penyebab retardasi mental antara lain faktor genetik (seperti dalam Down syndrome dan fragile X syndrome) dan kerusakan otak (yang mungkin disebabkan oleh infeksi , seperti AIDS) dan faktor lingkungan. Gangguan Bicara dan Bahasa Ganguan bicara dan bahasa antara lain problem dalam bicara (seperti ganguan artikulasi, ganguan suara dan ganguan kefasihan) dan problem bahasa (kesulitan menagkap dan mengekpresikan bahasa). Ganguan artikulasi adalah problem dalam pelafalan kata secara benar. Ganguan suara tampak dalam bicara yang terlalu keras, kasar atau terlalu lemah. Anak dengan bibir sumbing biasanya mengalami ganguan jenis ini. Ganguan kefasihan biasanya kita kenal dengan istilah “gagap”. Ganguan bahasa adalah kerusakan signifikan dalam bahasa resektif dan ekpresi anak. Bahasa reseptif adalah penerimaan dan pemahaman bahasa. Bahasa ekpresif adalah bahasa untuk mengekpresikan pikiran seseorang dan berkomunikasi dengan orang lain. Ketidakmampuan Belajar Anak dengan ganguan atau ketidakmampuan belajar biasanya punya kecerdasan normal atau lebih, mereka setidaknya kesulitan dalam satu bidang akademik atau lebih, dan kesulitan itu tidak berkaitan dengan ganguan yang lain seperti retardasi mental. Mendiagnosis apakah anak punya ganguan belajar atau tidak adalah tugas sulit. Kemungkinan anak lelaki punya ganguan belajar adalah tiga kali lebih banyak ketimbanga anka perempuan. Dyslexia adalah ganguan parah dalam kemampuan membaca dan mengeja. Anak dengan ketidakmampuan belajar kerap mengalami kesulitan menulis dengan tangan, menngeja atau menyusun kalimat, dan kesulitan dalam bidang matematika. Ada kontroversi seputar kategori “ketidakmampuan belajar” beberapa kritikus percaya bahwa kategori itu adalah hasil dari diagnosis yang berlebihan; yang lainnya tidak percaya. Diagnosis sulit terutama untuk ganguan yang ringan. Identifikasi awal terhadap anak yang mungkin menderita ganguan belajar sering sekali dilakukan oleh guru dikelas, yang kemudian meminta ahli untuk mengevaluasi anak itu. Banyak intervensi untuk ketidakmampuan belajar difokukan pada kemampuan membaca dan mencangkup sterategi seperti peningkatan keterampilan decoding. Keberhasilan intervensi akan tergantung kepada training dan keahlian guru. Attention Deficit Hiperactivity Disorder Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) adalah ketidakmampuan dimana anak menunjukkan problem yang terus-menerus, ciri=cirinya seperti : kurang perhatian , hiperaktif, dan impulsif. Walaupun tanda-tanda ADHD mungkin ada dimasa kanak-kanak awal, diagnosis ADHD sering kali baru dilakukan pada masa SD. Bnayak pakar merekomendasi kembinasi intervensi medis, akademik, dan behavioral untuk membantu murid ADHD belajar menyesuaikan diri. Ganguan Perilau dan Emosional Ganguan perilaku dan emosional terdiri dari problem serius yang menyangkut hubungan, agresi, depresi, rasa takut yand diasosiasikan dengan persoalan personal atau sekolah, dan ganguan sosioemosional lainnya. Istilah ganguan emosional serius belakangan inin= dipakai untuk mendeskripsikan kategori ganguan ini, walaupun banyak krtikan. Dalam perilaku yang sangat agresif dan tidak dapat dikontrol, murid akan dikeluarkan dari kelas. Problem ini lebih banyak dialami anak lelaki ketimbang anak perempuan. Problem depresi, kecemasan, takut, dan memendam perasaan biasanya lebih banyak dialami anak perempuan ketimbang anak lelaki. Anak Berbakat Anak berbakat biasanya punya kecerdasan diatas rata-rata ( IQ ± 130 atau punya bakat u ggul di berbagai bidang, seperti seni, musik, atau matematika). Beberapa kritikus mengatakan bahwa program anak berbakat terlalu banyak memasukkan anak berkulit putih non-Latino yang hanya cerdas biasa dan biasanya kooperatif. Winner mendeskripsikan anak berbakat sebagai anak yang punya tiga karakteristik utama: matang sebelum waktunya, belajar menuruti kemauan mereka sendiri, dan semangat untuk menguasai. Studi Terman mengungkapkan kehidupan banyak anak sukses yang berbakat. Banyak anak dalam studi Terman bukan hanya punya IQ tinggi, tetepi juga berasal dari keluarga kelas menengah keatas dimana orang tuanya memantau dan membimbing prestasi mereka. Kebanyakan anak berbakat tidak punyaganguan emosional. Aank berbakat yang tidak merasa tertantang dapat menimbulkan problem disekolah. Program sekolah yang tersedia untuk anak berbakat antara lain yaitu kelas khusus (program “pullout”), akselerasi, pengayaan, mentor, dan program pelatihan, serta program kerja/studi pelayanan masyarakat. Debat difokuskan pada apakah program akselerasi atau pengayaan adalah yang paling baik bagia anak berbakat. Aank berbakat amakin banyak didik dikelas reguler. Beberapa pakar merekomendasikan agar standar di kelas dinaikkan sehingga membantu anakberbakat, walaupun program seperti mentoring dan pelajaran tambahan mungkin diperlukan anak berbakat yang merasa tidak tertantang.

Minggu, 20 April 2014

LAPORAN HASIL OBSERVASI

Anggota :
1    Persiapan awal
Pada saat penentuan sekolah untuk observasi, kelompok kami tidak begitu terkendala karena kami sudah mempunyai rencana sekolah tujuan karena salah satu anggota kelompok kami merupakan alumni dari sekolah tujuan kami.
Tujuan awal kami adalah SMA 1 harapan Medan, namun kami tidak bisa mendapatkan izin karena siswanya sedang ujian tengan semester, kemudian kami mencoba mi nta izin ke SMP Harapan 2 Medan, dan lagi kami tidak mendapatkan izin dengan alasan siswanya sedang ujian tengah semester. Selanjutnya kami mencoba ke SMP Harapan 2 Medan, dengan berbagai pertimbangan dari pihak sekolah kami diizinkan untuk melakukan observasi  di sekolah tersebut.
·         Profil sekolah
a)      Nama sekolah : SMP Harapa 2 medan
b)      Alamat                        : jl. Imam Bonjol No. 35 Medan
c)      Berdiri sejak    : 1967
d)     Jumlah kelas    : 13 kelas
e)      Biaya/bulan     :
akselarasi = Rp 1.500.000,00/bulan
reguler = Rp 750.000,00/bulan
f)       Nama kepala sekolah : Sabilal lubis, M.Pd
g)      Fasilitas sekolah :
·         labolatorium
·         musholla
·         kantin
·         lapangan
·         taman
·         toilet
·         koperasi
·         uks
·         perpustakaan
2.     Pelaksaan
Kami melaksanakan observasi ke SMP Harapan 2 Medan pada tanggal 02 April 2014, pukul 11.30 WIB. Dan untuk observasi kami di tempatkan di kelas akselarasi 1. Lama observasi 60 menit.
Di kelas
Saat memasuki kelas akselarasi satu kami melihat kenyamanan tercipta, dengan ruangan yang full fasilitas. Saat pembelajaran dimulai :
·         Guru Membuka Pembelajaran ( kegiatan awal)
1.      Ketika  guru memasuki Kelas siswa duduk dengan rapi ditempat duduknya masing-      masing.
2.      Ketika guru memasuki kelas guru memberikan senyuman kepada siswa-siswinya lalu mengucapkan salam dan “selamat pagi anak-anak”.
3.      Kemudian guru dan siswa memulai pembelajaran dengan pembacaan do’a yang di pimpin oleh ketua kelasnya.
4.      Guru mengabsen siswa satu persatu.
5.      Guru menyiapkan peralatan mengajar seperti laptop, infocus, layar, dan buku pegangan guru (buku paket).
6.      Kemudian guru melakukan  proses belajar mengajar
·         Guru Menyampaikan Pembelajaran (kegiatan inti )
1.      Guru menginformasikan materi pelajaran yang akan dipelajari
2.       Guru menggunakan media infocus dalam menyampaikan materi pembelajaran.
3.      Guru menayangkan materi pembelajaran lewat slide melalui infocus
4.      Sebelum guru menjelaskan materi melalui media infocus guru melakukan tanya jawab tentang materi yang akan dipelajari guna untuk mengetahui kemampuan siswa dalam materi yang akan dipelajari.
5.      Melalui media infocus guru menjelaskan materi, kemudian siswa mendengarkan dan mencatat bagian yang penting dari materi yang di jelaskan dan menanyakan jika kurang dimengerti.
6.      Melalui media infocus siswa mampu memahami penjelasan guru pada materi terkait.
7.      Melalui penjelasan guru, siswa mampu bertanya dan menjelaskan materi yang telah diajarkan guru.
8.      Melalui media infocus guru melakukan tanya jawab kepada siswa tentang materi terkait
3.     Teori Pendekatan dalam belajar
Teori behavioristik
Pendekatan behavioral adalah penekanan pada pengalaman (classical), terutama penguatan dan hukuman (operant), sebagai detrminan dari pembelajaran dan prilaku.
Classical conditioning
Clasical conditioning adalah sebentuk pembelajaran asosiatif dimana stimulus netral menjadi diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kemampuan untuk mengeluarkan respon yang serupa.
Tokoh dalam classical conditioning adalah Ivan Pavlov, seorang Psikolog Rusia yang melakukan eksperiment terhadap seekor anjing pada awal 1900-an. Dalam eksprimennya, pavlov secraa rutin meletakkan bubur daging didepanmulut anjing yang menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Air liur yang dikeluarkan anjing menunjukkan bahwa anjing memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan yaitu bubur daging. Dan Pavlov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting.
Dalam classical conditioning stimulus netral diasosiasikan dengan simulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Dalam classical conditioning ini ada 2 tipe stimulus dan 2 tipe respon yaitu, unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR).
Dimana US adalah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa ada pembelajaran erlebih dahulu. Dalam eksprimen Pavlov makanan adalah US. UR adalah respon yang tidak dipelajari secara otomatis dihasilkan oleh US, dalam ekspeimen pavlov air liur anjing merupakan UR. CS adalah stimulus yang sebelumnya adalah netral yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan oleh US. CR adalah reson yang dipelajari. Yakni respon terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.
Classical conditioning dapat berupa pengalaman positif bagi anak sekolah karena kesenangan pada guru pavorit, perasaan kelas yang aman dan menyenangkan serta kehangatan dan perhatian guru. Dan juga negatif seperti, rasa takut akan gagal ujian dan ditegor oleh guru, karena siswa mengasosiasikan ujian dengan kecemasan.
Dam eksprimen Pavlov ada terdapat generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan, yang merupakan dampak dari eksprimen terhadap anjing.
Generalisasi adalah kecenderungan terhadap stimulus baru yang sama dengan yang asli untuk menghasilkan respon yang sama.
Diskriminasi adalah terjadi ketika organisme merespon stimulus tertentu tetapi tidak merespon stimulus lain.
Pelenyapan dalah pelemahan respon karena tidak adanya stimulus.
Operant conditioning
Operant conditioning ini juga dinamakan dengan “pengkondisian instrumental” adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi dari prilaku menhasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulang.
Tokoh dalam operant conditioning ini adalah B.f. skninner yang didasarkan pada E.L. Thondike.hukum efek Thondike menyatakan bahwa prilaku diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan prilaku yang diikuti dengan hasil negatif akan diperlemah.
Penguatan dan hukuman
Penguatan adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa prilaku akan terjadi. Ada 2 tipe penguat yaitu, penguat positif adalahfrekuensi respon meningkat karena diikuti dengan stimulus yag mendukung seperti hadiah dan pujian. Dan penguat negatif adalah frekuensi responmeningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan, misalnya ibu memarahi anaknya karena tidak mengerjakan PR.
Hukuman adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu prilaku. Hukuman biasanya terjadi jika seorang anak melakukan suatu kesalahan atau melanggar suatu peraturan dan hukuman ini biasanya yang merugikan si anak.
Generaliasasi dalan operan adalah memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang sama.
Diskriminasi dalam operan adalah pembedaan diantara stimulus dan pembedaan lingkungan
Pelenyapan dalam operan adalah ketika respon penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun.
Contoh penguat positif adalah siswa mengajukan pertanyaan yang bagus, konsekuensinya guru memuji siswa tersebut, hasilnya siswa tersebut jadi semakin rajin bertanya.
Contoh penguat negatif adalah siswa menyerahkan PR tepat waktu karena sebelumya pernah ditegus karena telat, konsekuensinya guru berhenti menegur siswa tersebut, hasilnya siswa tersebut semakin sering mengumpulkan PR tepat waktu.
Contoh hukuman adalah seorang siswa menyela guru saat menerangkan , konsekuensinya adalah guru menegur siswa secraa langsung, hasilnya siswa tersebut berhenti menyela penjelasan guru.
Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif adalah teori yang menyatakan bahwanfaktor sosial, kognitif dan prilaku memainkan pean penting dalam pembelajaran. Pendekatan kognitif ini lebih menekankan pada pengamatan dan menirukan model.
Tokoh dalam pendekatan ini adalah Albert Bandura, dia mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat mempresentasikan pengalaman mereka secara kogitif. Bandura jugamengembangakan model determine resiprokal yang terdiri dari 3 faktor utama yaitu, prilaku, kognitif dan lingkungan yang ketiganya ini saling mempengaruhi. Namun menurut bandura faktor person/kognitif yang paling berperan penting, sehingga adanya self-efficacy yaitu keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif.
Bobo doll juga merupakan eksprimen bandura yang sangat terkenal. Dalam eksprimen ini menekankan pada prilaku anak terhadap boneka bobo doll setelah anak menonton adegan film, dengan film yang diberikan penguat yang berbeda ada positif, negatif dan netral. Setelah menonton anak-anak dibiarkan didalam satu ruangan yang di dalamnya terdapat boneka bobo doll kemudian prilau anak diamati, didapat hasil bahwa anak tidak terlalu memandang ada atau tidaknya penguat pada setiap film tapi anak lebih terfokus pada model dan menirukannya pada boneka bobo doll.
Teori cara mengajar yang efektif :
Ø  Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Berikut adalah strategi dengan pengetahuan dan keahlian profesional :
ü  Penguasaan materi pelajaran
ü  Strategi pengajaran, seorang harus harus memiliki strategi pengajaran yang dapat membuat anak-anak tidak merasa bosan dan terus merasa tertarik untuk belajar.
ü  Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional, seorang guru harus memiliki tujuan dari apa yang di ajarkan pada anak-anak, sehingga ada perencanaan-perencanaan yang berurut dan baik.
ü  Keahlian menagemen kelas
ü  Keahlian motivasional, seorang guru harus memiliki motivasi yang tinggi sehingga bisa membagi motivasi  tersebut kepada anak-anak yang diajar.
ü  Keahlian komunikasi, seorang guru harus menjaga komunikasi yang baik dengan ana-anak yang diajar sehingga tetap tercipta intaksi yang hangat antara yang pelajar dan pengajar.
ü  Tidak membeda-bedakan latar belakang kultural yang berbeda dan bekerja secara efektif.
ü  Keahlian tekhnologi, pada era tekhnologi yang semakin berkembnag membuat seorang guru harus menguasai tekhnologi untuk menyeimbangkan dengan zaman.
Ø  Komitmen dan Motivasi
Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan  komitmen dan motivasi. Aspek ini juga mencakup sikap yang baik dan perhatian terhadap murid.
Nah, bagaimana mengembangkan sikap positif dan mempertahankan semangat mengajar. Seorang guru pekerjaan yang menciptakan kesuksesan baru baginorang lain, seperti renungan seorang konsultan Carloz Dies (1997), mengomentari tentang Mrs. Oppel guru bahasa Inggriinya saat sekolah menengah atas:
“Hingga saat ini, setiap kali saya melihat kata tertentu (dearth, slake) saya langsung mengenalinya sebagai kosa kata Mrs. Oppel. Sebagai seorang guru dia sangat tenang dan fokus. Dia juga memperhatikan kekuatan bahasa dan keindahan sastra. Saya berutang budi kepadanya, setidaknya sebagian, karena berkat beliau saya jadi berusaha keras untuk menguasai bahasa inggris dan menjadi profesor dan penulis. Saya ingin bisa menanamkan karakter ini ke murid-mirid saya.”
Hasil laporan obesrvasi
Dari hasil pengamatan kelompok kami dan ditambah dengan sedikit wawancara dengan salah satu siswa yang ada didalam kelas akselarasi 1 tempat kelompok kami melakukan observasi, kelasa ini memiliki fasilitas kelas yang lengakap seperti: komputer, tv, ac, dispenser, in focus, white boart, loker, rak sepatu, globe, poster pelajaran, foto presiden dan wakil presiden. Pada saat pelajaran IPA ( biologi) yang membahas tentang sistem reproduksi guru menerangkan materi pelajaran hati itu dengan menggunakan fasilitas yang sudah disediakan seperti infocus kepada siswa denga jelas dan perlahan sampai siswa benar-benar paham tentang materi tersebut, siswa tampak sangat antusias dalam pembelajaran dibuktikan dengan bebrapa pertanyaan yang berhubungan dengan meteri yang diajukan oleh siswa, dan karena siswa yang sangat aktif bertanya dan ingin didahulukan membuat tuang kelas kurang kondusif namun tetap terasa seru. Intraksi antara guru dan siswanya baik dibuktikan dengan siswa tidak malu bertanya apa yang tidak diketahui dan mengeluh jika guru memberikan terlalu banyak tugas walaupun akhirnya tugas tersebut tetap dikerjakan. Perlengkapan kelas yang sangat mendukung dan bersih menambah semangat siswa dalam belajar. Sesama siswa juga terjalin intraksi yang harmonis ditambah dengan jumlah siswa yang sedikit membuat mereka tampak akrab.
Namun berdasarkan wawancara terhadap salah satu siswa bahwa, mereka mirud akselarasi ini sering kali mendapat tekanan dari siswa dari kelas reguler karena mereka yang difasilitasi lengkap dan perhatian yang labih, tapi bukan berarti kelas reguler tidak diperhatikan. Siswa mengaku bahwa mereka sering dicap sombong oleh siswa reguler lainnya dikarenakan jadwal belajar siswa akselarasi yang padat yang membuat waktu mereka bermain dengan siswa reguler lainnya sedikit. Namun sejauh pengamatan mereka tetap tampak enjoy tanpa menghiraukan berita miring tentang mereka, dengan semangat belajar mereka yang tinggi dan keakraban yang terjalin diantara mereka satu kelas.
Menurut pengakuan beberapa siswa bahwa metode belajarnya sudah bagus hanya saja terkadang kurang efektif karena adanya guru yang berperan ganda dengan memengang 2 mata pelajaran dalam pengajaran, namun itu tidak terlalu masalah karena 2 mata pelajara yang di pegang satu guru ada sedikit hubungannya jadi tidak begitu membingungkan.
Metode belajar yang lebih mengarah kepada student center, bisa memberikan contoh bagi kelas reguler lain dan bahkan sekolah lain untuk lebih meningkatkan mutu pembelajaran. Dan untuk tata letak sekolah, sudah cukup bagus dan lengkap hanya saja kurang penjagan dari siswa, namun secara garis besar semua masih tampak bagus dan lengkap, sangat memadai untuk siswa.
Rangkuman hasil observasi
Menurut kelompok kami di SMP harapan 2 medan di kelas akselarasi 1. Metode pembelajaran yang digunakan adalah student learning center, siswa mencari sendiri apa yang ingin diketahui baik itu mencari dalam buku atau bertanya pada guru, siswa yang mengetahui apa yang sudah dipahamia atau belum. Namun tetap juga ada unsur behavioral dalam pembelajaran dengan guru memberikan pujian untuk menambah motivasi siswa dan hukuman untuk membuat siswa jera. Pembelajaran berlangsung ssangat aktif dengan antusias siswa dalam belajar. Namun dengan kondisi kelas yang kurang kondusif membuat guru tekadang kewalahan mengontrol siswa. Dan untuk pelanggaran peraturan tidak terdapat di kelas akselarasi 1 tersebut.